Arsip untuk November, 2008

h1

Pulang malam

November 15, 2008

Beberapa hari ini aku selalu pulang larut malam, entah karena ada tugas, les, atau hanya bermain futsal bersama teman. Kalau aku melewati jalan di kota Bandung malam hari yang sangat tenang, aku teringat pada kejadian yang menimpaku di London, kejadian yang cukup mengerikan bagiku.

Saat itu hari Jumat pukul 17.00, aku baru menyelesaikan kelas terakhir di sekolah. Saat itu aku bertemu dengan Riza dan Anggi (maaf kalo salah, gw agak lupa namanya). Mereka rupanya akan menggelar Makan Bersama Nasi dan Bihu Goreng dan mengundangku. Hmm, makanan itu sudah lama tak kuicip sekalian ngirit pengeluaran, pikirku. Akhirnya aku menyetujui untuk datang ke flat Anggi di Abillity Tower, zone 2 London. Tapi sebelumnya kita akan menuju Oxford Street terlebih dahulu untuk menemani Riza membeli oleh-oleh karena dia akan pulang ke Indonesia lusanya. Kami pun berangkat.

Saat itu sedang musim panas sehingga langit masih terang walaupun sudah cukup sore. Tetapi cuacanya memang sedang tak enak, berangin dan selalu hujan. Suhu udara saat itu sekitar 10 derajat. Kami menyusuri jalanan Roupell Street menuju stasiun Westerloo yang hanya berjarak 300m. Di perjalanan, aku mengambil London Paper gratis. Di kiri dan kanan jalan yang ada hanyalah rentetan detached house yang terlihat seperti tembok. Tapi jangan tanya harganya. Dengan luas hanya sekecil itu dan tanpa furnitur, satu rumah dihargai sekitar 9M dalam rupiah!! wow, aku langsung kaget mendengarnya.

Sampai di Westerloo station, kami langsung menuju underground station dan mengambil kereta Bakerloo Line menuju Oxford Circus. Saat itu aktivitas dalam kereta sangat padat, maklum jam pulang kerja. Setelah sepuluh menit dan melewati Embankment, Charing Cross, dan Picadilly Circus, kami sampai di Oxford Circus. Kemudian kami segera mencari oleh-oleh murah. Yang paling murah untuk keyring adalah 1pounds tapi memang modelknya jelek. Kemudian sedikit mencuci mata di toko-toko yang terserak sepanjang Oxford Street.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, kami memutuskan untuk segera menuju flat. Kami harus mengambil kereta dari Oxford Circus menuju Edgware Road. Kali ini sedikit lama karena kami harus mengantri. Saat itu memang sangat penuh. Keluar dari Edgware Road, kami mengambil Bis (lupa nomor berapa) menuju abillity tower. Walaupun saat itu sudah pukul 19.45, tapi langit belum menunjukkan tanda akan terjadi malam. Kami masuk dan ternyata flat yang seharusnya ada delapan orang itu kosong melompong. Kemudian kami mulai memasak.

Karena aku adalah yang paling muda dan tidak bisa memasak, aku hanya menonton TV. Saat itu aku menonton BBC dan ada berita tentang hilangnya orang di Bali. Oh iya, saat itu Widya juga sudah datang. Kami semua pun berbincang-bincang sambil menunggu makanan matang. Saat itu aku mencoba mengingat-ingat nomor ujian UGM karena hari itu adalah hari pengumuman. Pukul 20.30, makanan sudah siap disantap. Kami pun langsung menyantap dengan lahapnya. Setelah makan, kami pun berbincang dan membandingkan London dengan Indonesia.

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 23.30! Aku dan Riza segera bergegas pamit dan menuju Bus Stop. Kami cukup khawatir tertinggal kereta terakhir. Kereta memang tidak beroperasi 24 jam, lain halnya dengan bis yang beroperasi 24 jam. Dan parahnya lagi, aku tidak tahu bis apa yang diambil untuk mencapai rumahku, apalagi rumahku terletak di zone 4. Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya bis malam datang juga. Aku segera menaiki bus itu.

Beberapa menit kemudian, kami mengambil underground kembali menuju westerloo. Beruntung, kami masih dapat kereta terakhir. Sampai di Westerloo, aku segera berlari meniggalkan Riza yang akan meneruskan ke London Bridge Station. Aku berlari secepat mungkin menuju East Westerloo Overground Station. Di sana, aku tertinggal kereta. Setelah kucek, ternyata masih ada kereta terakhir 45 menit kemudian. Aku berjalan menuju platform A yang biasanya aku pakai. Sampai di platform A, ternyata kereta dipindahkan ke Platform C. Kemudian aku berjalan ke atas lagi. Di persimpangan antara lorong menujua A dan C, tiba-tiba dua orang yang berpakaian acak-acakan berteriak padaku. Aku kaget dan hanya menengok saja. Ketika aku menengok untuk kedua kalinya, seorang di antara mereka mengeluarkan makanan hancur yang sudah bercampur dengan asam lambung dari mulutnya, muntah, setelah itu dia langsung tersungkur di lantai. Temannya tiba-tiba terlihat sedih. Dasar orang mabuk, pikirku.

Di platform C, aku duduk di tempat duduk yang disediakan. Di sebelahku duduk seorang wanita muda dengan blazer rapi, seorang wanita yang sudah agak tua dengan mantelnya, dan seorang lelaki kulit hitam sedang memakan kentang goreng dari McDonald. Shit, angin malam di stasion terbuka seperti ini sangat menusuk tulang, aku pun memakan sedikit coklat untuk menghangatkan diri, ya daripada meminum bir??. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kereta datang. Kereta cukup ramai dengan orang-orang mabuk. Di kursi depanku malahan ada sepasang manusia yang melakukan adegan cukup panas. Dasar orang-orang gila. Aku akhirnya pindah tempat.

Sampai di Grove Park, aku masih berharap ada kereta menuju Sunridge Park. Tapi ternyata memang sudah tidak ada. Akhirnya aku keluar dari stasion dan menuju bus stop. Sebentar kemudian, ada sebuah mobil audy mewah berwarna merah melaju kencang dan tiba-tiba menyemburkan air ke arah orang-orang. Aku tak tahu air apa itu, mungkin coca-cola atau malah air kencing. Terdengar dari mobil itu suara tertawa keras. Di belakangku ada seorang lelaki muda dengan kekasihnya menawarkan sapu tangan. Aku mengelap air itu dan mengucapkan terima kasih. Kemudian lelaki itu berteriak ke arah mobil tersebut ,”YOU”RE F**KING JERK!!”. Kemudian mobil itu berhenti dan membunyikan klakson. Lelaki itu tersulut emosinya dan hampir menghampiri mobil itu. Untungnya ada kekasihnya yang berhasil menenangkannya.

Sepuluh menit kemudian muncul sebuah bis double-deck bernomor 613. Supir bis itu berteriak ,”Last Bus, Last Bus!”. Fuuh, untung saja aku bisa mendapatkan bis ini. Kemudian bis berjalan dengan kecepatan sedang. Aku mengambil tempat duduk agak depan yang akhirnya aku sesali.

Sampai di Bus Stop sebuah jalan, dua orang remaja kulit hitam menaiki bus itu. Orang pertama mengeluarkan oyster card miliknya dan memukulkannya ke sensor, aku tak mengerti apa maksunya ini. Ternyata, dia bermaksud menjatuhkan oyster card untuk diambil temannya yang tampaknya tidak mempunyai oyster card ataupun uang. Malang, sang supir bis mengetahui ini dan mereka melakukan percapakapan

DR : hey, it’s not your oyster card, you must pay 2 pounds

R2 : please, i don’t have money

DR : No! this is the rule, just get off the bus

R1 : what the hell is going on here? (sudah naik ke upper deck)

DR : sorry, your friend can’s go along this bus

R1 : what? but he has oyster card, look!

DR : so, show your oyster card

R1 : (tak bisa mengelak) oo.. come on, please let my f**kin’ friend get into this f**kin’ bus!

DR : No, rule is law. you must obey it (mematikan mesin bis) you must want to steal something here! get off my bus!

Selanjutnya perdebatan bahasa kotor pun dilakukan selama lima belas menit kemudian. Aku juga ikutan tegang karena jarakku dengan TKP cuma sekitar satu meter. Tiba-tiba lelaki yang tadi meminjamkan sapu tangannya berteriak ,” Hey you godamn kids, just get off this f**kin’ bus, i want to go to my f**kin’ house!”. Lalu remaja satu pun menantang,” Shut up your f**kin’ mouth, if you want me to get off, so just get me off!”. Hampir saja lelaki itu menonjoknya ketika seorang wanita akhirnya memberikan 2 pounds untuk mereka. Akhirnya mereka naik ke upper deck. Jantungku berdegup kencang, ini pertama kalinya aku melihat pertengkaran antar pemabuk (tercium dari bau napasnya).

30 menit kemudian, aku sampai di bus stop sebuah gereja. Turun di sini adalah jalan terdekat sampai ke rumah. Walaupun dekat, tapi ternyata aku sedikit menyesali memilih jalan ini. Aku harus menyeberang lapangan rumput yang di salah satu sisinya adalah kuburan. Bukan kuburan yang aku takuti, tapi tiba-tiba dari lapangan terlihat ada dua, empat, bahkan delapan mata yang bersinar. Aku yang sedikit taku akan binatang-binatang aneh, hanya bisa mempercepat jalan. Aku merasa mata-mata itu mengikutiku. Sesampainya aku di jalanan terang, aku bisa melihat sosoknya, mereka adalah rubah yang tampaknya baru memakan seekor tupai. Kemudian aku bergegas ke rumah.

Rumah sudah dikunci (sudah pasti) karena jam menunjukkan pukul 02.30. Aku memakai kunciku dan membuka secara perlahan, takut ada yang terbangun dan pasti aku dimarahi karena tidak bilang terlebih dahulu. Aku segera menaiki tangga dan memasuki kamarku. Di kamar, Jose sudah tertidur pulas. Aku yang masih merasa tak enak karena air yang dilempar para pemuda brengsek tadi memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Mandi dengan air hangat memang nikmat, pegal-pegal serasa hilang dibuatnya. Sampai di kamar, aku baru tersadar bahwa matahari sudah terbit, ya sudah pukul 3.30. Karena aku akan ada kelas pagi, aku langsung tidur.

Mulai saat itu aku tak pernah pulang lebih dari jam 10.00 di London

h1

Realita Mahasiswa

November 15, 2008

Saat aku masih SMA, kupikir isi dari sebuah kampus adalah orang-orang yang mempedulikan bangsanya layaknya yang kulihat di televisi saat mahasiswa menggelar demo, bahkan sampai berbuat desdruktif.

Sekarang, aku termasuk di antara mereka. Lalu apa yang kudapat?

Hanya segelintir orang sajalah yang peduli akan negara ini, yang lain asik dengan dunianya sendiri.

Bahkan beberapa orang memilih kampus ini hanya demi mendapatkan uang nantinya, mereka tidak sadar bahwa biaya pendidikan mereka sebagian merupakan jerih payah masyarakat.

Mereka hanya ingin mendapat uang dengan bekerja pada perusahaan asing, bukannya membuka lahan pekerjaan baru untuk para penganggur.

Mereka ingin bekerja pada perusahaan yang mempunyai kontrak karya dengan Indonesia yang tidak rasional.

Mereka ingin bekerja pada perusahaan yang sudah menyedot minyak kita sehingga harga BBM kita harus sesuai dengan pasar NY.

Apakah orang-orang ini adalah orang yang sama dengan yang melakukan demo menuntut hak rakyat??

h1

OST 2006, sebuah titik balik (TM+H1)

November 15, 2008

Hari itu adalah hari pertama aku secara resmi menjadi murid SMAN 3 Bandung, semua tampak berbeda dengan SMP. Mulai saat itu aku akan menjalanai kehidupanku di kota baru setelah sebelumnya aku tinggal di Bekasi.

Aku datang pukul enam pagi, lebih cepat tiga puluh menit dari bel masuk. Aku datang bersama kakakku melewati pintu SMAN 5 (saat itu aku masih indekos di jl. Bali). Walaupun sudah masuk sekolah, tapi aku masih harus memakai seragam smp sehingga aku dikira salah satu peserta mos sman5 yang memang masih berlangsung. Aku lantas menuju papan pengumuman di depan ruang guru. Di sana tercantum daftar nama dan kelas dari kelas X sampai XII. Lama mencari, akhirnya kutemukan namaku berada di kelas X-9. Karena tidak tahu lokasinya, aku segera melihat peta. Ternyata kelas X-9 terletak terpisah dari kelas lainnya, yaitu di lantai dua gedung koridor bersama 3-5. Aku sempat mengeluhkan lokasi ini. Kelasnya kurang terawat, jauh dari teman senagkatan, dan pasti guru akan banyak yang malas datang. Akhirnya aku mengambil tempat duduk di dekat jendela. Beberapa orang di kelas itu ada beberapa yang kukenal karena sekelompok saat PLiST. Akhirnya guru datang dan pelajaran dimulai dengan khidmat (maklum hari pertama, masih rajin). Selesai sekolah, aku pasti langsung pulang menggunakan angkot jurusan antapani-ciroyom.

Saat itu, aku adalah orang yang masih tak peduli akan masalah bangsa, orang yang hanya ingin keuntungan untuk diri sendiri, individualis (karena memang belum punya banyak teman T_T), dan sama sekali tidak bisa berbicara di depan banyak orang. Suatu hari, saat pelajaran sedang berlangsung tiba-tiba datang lima orang dengan memakai seragam yangsangat rapi. Mereka memperkenalkan diri bahawa mereka adalah MPK dengan suara yang lantang. Ternyata MPK sedang mengadakan seleksi yang disebut Organization Skill Training. Pada awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan hal ini, karena aku sudah capek setelah PLiST kemarin. Tapi, tiba-tiba aku merasa terpanggil untuk mengikuti kegiatan ini dengan tujuan mencari teman, ya, pada awalnya memang hanya mencari teman. Pada waktu istirahat, aku dan beberapa temanku mengambil formulir di stand dekat bazaar.

Malam harinya, aku meminta tandatangan kakekku untuk surat izin mengikuti kegiatan. Esoknya aku mengumpulkan formulir dan ternyata aku adalah pengumpul ikhwan pertama, oleh karena itu aku melakukan wawancara pertama beberapa hari kemudian. Wawancara berlangsung santai, tapi jujur saja aku sedikit tegang. Pewawancaraku bernama Adi. Pada awal wawancara, aku diberikan pertanyaan

  •  
    • Q : ini berapa jari?? (sambil menujukkan kedua tangan)
    • A : sepuluh (masih belum mengerti)
    • Q : kalau lsepuluh tangan berapa jari?
    • A : (dengan pedenya) 100! (10X10)
    • Q : …
    • A : ee…Lima puluh (baru sadar)
    • Q : saya minta kamu fokus ya

Setelah itu aku diberikan beberapa pertanyaan mengenai prioritas, visi misi, studi kasus, dll. Keluar dari ruangan wawancara aku diberi tahu panitia bahwa pada harijumat akan diadakan technical meeting, kumpul di koridor pukul 13.30. Aku kemudian bergegas pulang.

Hari jumat, aku berkumpul bersama peserta lain tepat pukul 13.30. Kami diberi perintah untuk berbaris dan diawasioleh beberapa panitia yang memasang wajah serius. Kemudian kami dipindahkan ke 2 ipa 9, kelas tertinggi di sini. Di 2ipa9, kami dikenalkan dengan panitia, mulai dari acara, lapangan, DPH, dan seksi yang paling ditakuti sekaligus paling diminati, tata tertib. Ketika PSAS-ku diperiksa, ternyata masih ada yang salah seperti lokasi tidak 3 jari, kaos kaki, dll. Setelah seksi tata tertib, datanglah dua orang dengan wibawa yang tinggi. Kedua orang itu kemudian duduk di depan dan kami duduk melingkar. Mereka adalah petinggi MPK, Faris sebagai Ketua dan Amri sebagai KaDiv Planning Organizer. Mereka menceritakan pengalamannya di MPK, dan keduanya berkata bahwa MPK telah merubah hidupnya. Mendengar cerita ini, tujuanku mulai bergeser, dari yang hanya mencari teman ke menjadi pengurus MPK.

Setelah sharing, mereka pergi dan sie. acara datang untuk memberikan tugas. Semangatku berkurang setelah mendapat tugas, apalagi tugasnya lebih rumit daripada tugas PLiST. Bahkan ada seorang temanku yang sudah menyatakan akan mengundurkan diri setelah pemberitahuan tugas (tapi akhirnya dia jadi ketua OSIS). Setelah pemberitahuan tugas, datang lagi panitia yang berteriak-teriak. Ternyata mereka akan memilih Komandan Siswa. Setelah terpilih, kemudian kami diajari jargon-jargon pembangkit semangat

“SISWA!”

“OST! OST! OST!”

“OST!”

“KAMI SISWA PASTI BISA!”

Jam telah menunjukkan pukul 5.00, kami dipersilahkan pulang. Kami memutuskan akan mengerjakan tugas esok harinya.

Hari Sabtu dan Minggu aku isi dengan kesibukan mengerjakan tugas, aku bekerja seperti seorang freerole player, kadang menggunting nametag, mengukur alas duduk, menempel buku, dan sedikit bermain gitar. Akhirnya tugas kami pun selesai dengan komando dari dua dansis, malik dan BJ.

Hari Senin, aku sekolah seperti biasa, hanya saja aku membawa barang ekstra untuk OST nanti siang. Pulang sekolah aku langsung bersiap dengan name tag, buku eval, dll sudah terpasang di seragamku. Kami dibariskan di koridor dan langsung digiring layaknya domba menuju aula. Di sana sudah berdiri para panitia dan pembina OSIS.  Kami melakukan apel pembukaan dengan khidmat. Setelah apel, kami digiring lagi ke 2ipa9, di sana kami di CP oleh tata tertib. Banyak sekali kesalahan yang kami lakukan, name tag salah ukuran, buku materi sudah diisi, PSAS, dll. Dari semua yang datang, hanya satu orang saja yang tidak melakukan kesalahan dan itu karena dia tidak datang saat pembuatan tugas. Kami pun dihukum dua set (dua puluh hitungan). Setelah itu kami dimarahi.

Setelah tatib, kami digiring ke X-9, kelasku. Di sana kami diberi materi tentang perspektif dalam menyikapi masalah oleh Amri. Aku mengikuti materi dengan serius. Setelah materi berikutnya, sang danlap (cewe lo) masuk dan mengajak kami mengobrol. Saat itulah muncul suatu kejadian yang akhirnya kami namai hari pertama dengan nama “hari subang”

Temanku, Hafy, baru kembali dari toilet. Saat itu sang danlap mengatakan bahwa satu lembar di buku materi tidak boleh di isi. Ternyata Hafy sudah mengisinya dan refleks mengatakan,”ANJIRR!!”. Setelah diselidiki selanjutnya, ternyata dia tidak tahu ANJIR adalah bahasa kotor karena di Subang hampir semua orang mengucapnya.

Di akhir rangkaian kegiatan, kami melakukan eval dan apel. Eval dilakukan seperti CP, kami ditanya apa yang sudah didapat dan semua kesalahan kami hari itu, dengan flow tinggi tentunya. Kemudian ketua panitia mengatakan bahwa untuk menjaga kualitas kami, maka akan diadakan penyusutan atau reduksi peserta yang akan dilakukan setiap hari. Aku langsung tegang dan berpikir bahwa aku tak boleh sampai tereduksi. Setelah apel, kami dipulangkan. Hari itu serasa hari terlama yang pernah aku lalui, tapi ternyata akan ada hari-hari yang jauh lebih panjang lagi.

h1

Hasrat Backpacking

November 14, 2008

hari ini aku tidak ada kuliah ataupun UTS, jadi aku memutuskan untuk tidur lagi setelah subuh. Saat terbangun, jam sudah menunjuk pukul 10.00. Aku kemudian mandi dan sarapan. Setelah itu aku menyalakan laptop Compaq Presario V3201TU milikku dan men-connect dengan USB Modem Flash. Sambil menunggu connect, aku melihat-lihat file di laptopku. Aku kemudian melihat foto-foto yang kuambil saat aku berada di London. Saat itu juga, tiba-tiba aku ingin kembali berjalan-jalan (dengan budget yang jauh lebih murah tentunya).

Kemudian aku menemukan sebuah website indobackpacker.com yang memberikan informasi tentang backpacking, baik domestik maupun mancanegara. Ada yang menarik perhatianku, yaitu artikel travel tips dengan judul “ke SG-KL dalam 5 hari”. Setelah kubaca, ternyata orang ini hanya mengeluarkan uang sekitar 4 juta. Biaya yang cukup murah, dan kupikir aku bisa menguranginya karena dia baru memesan tiket 2 minggu sebelum berangkat. Dan setelah membaca-baca artikel lainnya, aku menjadi semakin berhasrat untuk berbackpacking. Kuputuskan aku akan menuju singapore dan malaysia sebagai tujuanku dengan pertimbangan waktu dan ini merupakan backpacking luar negeri pertamaku.

Dan setelah mengajak teman-temanku, inilah rencana awal kami:

hari pertama : sampai di batam, malamnya ke singapore memakai boat, menginap di harbour

hari kedua    : di singapore, menyimpan barang di rumah kawan, jalan-jalan

hari ketiga   : pagi-siang jalan-jalan, malam berangkat naik bis ke KL menginap di bis

hari keempat : sampai di KL, jalan-jalan, menginap di rumah kawan

hari kelima  : jalan-jalan, kembali ke Indonesia

h1

Mengapa “gayagerak”

November 14, 2008

Selamat datang di blog pertama ku!

Mungkin banyak yang berpikir aku adalah seorang maniak fisika sampai-sampai blog pun aku beri alamat gayagerak. Aku berikan nama gayagerak karena memang menurutku hidup seperti hukum newton II. Mengapa?

Dalam hidup, kita terlahir sebagai sesuatu yang sama, baik yang kaya ataupun miskin, kita adalah manusia. Maka karena itu, kita anggap saja bahwa kecepatan awal kita semua adalah sama.

Manusia selalu mempunyai tujuan, baik disadari ataupun tidak. Tujuan tiap-tiap manusia mungkin berbeda-beda, tapi pasti maksudnya adalah sama yaitu memperbaiki hidup. Sekali lagi, ini berlaku bagi yang kaya dan miskin. Jadi kita dapat lagi bahwa tujuan akhir kita sama.

Kalau begitu, apakah yang membedakan antar manusia?? Bagiku jawabannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Bagaimana usaha seorang manusia untuk mendapatkan tujuannya. Dan dalam fisika, usaha dipengaruhi oleh besarnya gayagerak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.