Beberapa hari ini aku selalu pulang larut malam, entah karena ada tugas, les, atau hanya bermain futsal bersama teman. Kalau aku melewati jalan di kota Bandung malam hari yang sangat tenang, aku teringat pada kejadian yang menimpaku di London, kejadian yang cukup mengerikan bagiku.
Saat itu hari Jumat pukul 17.00, aku baru menyelesaikan kelas terakhir di sekolah. Saat itu aku bertemu dengan Riza dan Anggi (maaf kalo salah, gw agak lupa namanya). Mereka rupanya akan menggelar Makan Bersama Nasi dan Bihu Goreng dan mengundangku. Hmm, makanan itu sudah lama tak kuicip sekalian ngirit pengeluaran, pikirku. Akhirnya aku menyetujui untuk datang ke flat Anggi di Abillity Tower, zone 2 London. Tapi sebelumnya kita akan menuju Oxford Street terlebih dahulu untuk menemani Riza membeli oleh-oleh karena dia akan pulang ke Indonesia lusanya. Kami pun berangkat.
Saat itu sedang musim panas sehingga langit masih terang walaupun sudah cukup sore. Tetapi cuacanya memang sedang tak enak, berangin dan selalu hujan. Suhu udara saat itu sekitar 10 derajat. Kami menyusuri jalanan Roupell Street menuju stasiun Westerloo yang hanya berjarak 300m. Di perjalanan, aku mengambil London Paper gratis. Di kiri dan kanan jalan yang ada hanyalah rentetan detached house yang terlihat seperti tembok. Tapi jangan tanya harganya. Dengan luas hanya sekecil itu dan tanpa furnitur, satu rumah dihargai sekitar 9M dalam rupiah!! wow, aku langsung kaget mendengarnya.
Sampai di Westerloo station, kami langsung menuju underground station dan mengambil kereta Bakerloo Line menuju Oxford Circus. Saat itu aktivitas dalam kereta sangat padat, maklum jam pulang kerja. Setelah sepuluh menit dan melewati Embankment, Charing Cross, dan Picadilly Circus, kami sampai di Oxford Circus. Kemudian kami segera mencari oleh-oleh murah. Yang paling murah untuk keyring adalah 1pounds tapi memang modelknya jelek. Kemudian sedikit mencuci mata di toko-toko yang terserak sepanjang Oxford Street.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, kami memutuskan untuk segera menuju flat. Kami harus mengambil kereta dari Oxford Circus menuju Edgware Road. Kali ini sedikit lama karena kami harus mengantri. Saat itu memang sangat penuh. Keluar dari Edgware Road, kami mengambil Bis (lupa nomor berapa) menuju abillity tower. Walaupun saat itu sudah pukul 19.45, tapi langit belum menunjukkan tanda akan terjadi malam. Kami masuk dan ternyata flat yang seharusnya ada delapan orang itu kosong melompong. Kemudian kami mulai memasak.
Karena aku adalah yang paling muda dan tidak bisa memasak, aku hanya menonton TV. Saat itu aku menonton BBC dan ada berita tentang hilangnya orang di Bali. Oh iya, saat itu Widya juga sudah datang. Kami semua pun berbincang-bincang sambil menunggu makanan matang. Saat itu aku mencoba mengingat-ingat nomor ujian UGM karena hari itu adalah hari pengumuman. Pukul 20.30, makanan sudah siap disantap. Kami pun langsung menyantap dengan lahapnya. Setelah makan, kami pun berbincang dan membandingkan London dengan Indonesia.
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 23.30! Aku dan Riza segera bergegas pamit dan menuju Bus Stop. Kami cukup khawatir tertinggal kereta terakhir. Kereta memang tidak beroperasi 24 jam, lain halnya dengan bis yang beroperasi 24 jam. Dan parahnya lagi, aku tidak tahu bis apa yang diambil untuk mencapai rumahku, apalagi rumahku terletak di zone 4. Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya bis malam datang juga. Aku segera menaiki bus itu.
Beberapa menit kemudian, kami mengambil underground kembali menuju westerloo. Beruntung, kami masih dapat kereta terakhir. Sampai di Westerloo, aku segera berlari meniggalkan Riza yang akan meneruskan ke London Bridge Station. Aku berlari secepat mungkin menuju East Westerloo Overground Station. Di sana, aku tertinggal kereta. Setelah kucek, ternyata masih ada kereta terakhir 45 menit kemudian. Aku berjalan menuju platform A yang biasanya aku pakai. Sampai di platform A, ternyata kereta dipindahkan ke Platform C. Kemudian aku berjalan ke atas lagi. Di persimpangan antara lorong menujua A dan C, tiba-tiba dua orang yang berpakaian acak-acakan berteriak padaku. Aku kaget dan hanya menengok saja. Ketika aku menengok untuk kedua kalinya, seorang di antara mereka mengeluarkan makanan hancur yang sudah bercampur dengan asam lambung dari mulutnya, muntah, setelah itu dia langsung tersungkur di lantai. Temannya tiba-tiba terlihat sedih. Dasar orang mabuk, pikirku.
Di platform C, aku duduk di tempat duduk yang disediakan. Di sebelahku duduk seorang wanita muda dengan blazer rapi, seorang wanita yang sudah agak tua dengan mantelnya, dan seorang lelaki kulit hitam sedang memakan kentang goreng dari McDonald. Shit, angin malam di stasion terbuka seperti ini sangat menusuk tulang, aku pun memakan sedikit coklat untuk menghangatkan diri, ya daripada meminum bir??. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kereta datang. Kereta cukup ramai dengan orang-orang mabuk. Di kursi depanku malahan ada sepasang manusia yang melakukan adegan cukup panas. Dasar orang-orang gila. Aku akhirnya pindah tempat.
Sampai di Grove Park, aku masih berharap ada kereta menuju Sunridge Park. Tapi ternyata memang sudah tidak ada. Akhirnya aku keluar dari stasion dan menuju bus stop. Sebentar kemudian, ada sebuah mobil audy mewah berwarna merah melaju kencang dan tiba-tiba menyemburkan air ke arah orang-orang. Aku tak tahu air apa itu, mungkin coca-cola atau malah air kencing. Terdengar dari mobil itu suara tertawa keras. Di belakangku ada seorang lelaki muda dengan kekasihnya menawarkan sapu tangan. Aku mengelap air itu dan mengucapkan terima kasih. Kemudian lelaki itu berteriak ke arah mobil tersebut ,”YOU”RE F**KING JERK!!”. Kemudian mobil itu berhenti dan membunyikan klakson. Lelaki itu tersulut emosinya dan hampir menghampiri mobil itu. Untungnya ada kekasihnya yang berhasil menenangkannya.
Sepuluh menit kemudian muncul sebuah bis double-deck bernomor 613. Supir bis itu berteriak ,”Last Bus, Last Bus!”. Fuuh, untung saja aku bisa mendapatkan bis ini. Kemudian bis berjalan dengan kecepatan sedang. Aku mengambil tempat duduk agak depan yang akhirnya aku sesali.
Sampai di Bus Stop sebuah jalan, dua orang remaja kulit hitam menaiki bus itu. Orang pertama mengeluarkan oyster card miliknya dan memukulkannya ke sensor, aku tak mengerti apa maksunya ini. Ternyata, dia bermaksud menjatuhkan oyster card untuk diambil temannya yang tampaknya tidak mempunyai oyster card ataupun uang. Malang, sang supir bis mengetahui ini dan mereka melakukan percapakapan
DR : hey, it’s not your oyster card, you must pay 2 pounds
R2 : please, i don’t have money
DR : No! this is the rule, just get off the bus
R1 : what the hell is going on here? (sudah naik ke upper deck)
DR : sorry, your friend can’s go along this bus
R1 : what? but he has oyster card, look!
DR : so, show your oyster card
R1 : (tak bisa mengelak) oo.. come on, please let my f**kin’ friend get into this f**kin’ bus!
DR : No, rule is law. you must obey it (mematikan mesin bis) you must want to steal something here! get off my bus!
Selanjutnya perdebatan bahasa kotor pun dilakukan selama lima belas menit kemudian. Aku juga ikutan tegang karena jarakku dengan TKP cuma sekitar satu meter. Tiba-tiba lelaki yang tadi meminjamkan sapu tangannya berteriak ,” Hey you godamn kids, just get off this f**kin’ bus, i want to go to my f**kin’ house!”. Lalu remaja satu pun menantang,” Shut up your f**kin’ mouth, if you want me to get off, so just get me off!”. Hampir saja lelaki itu menonjoknya ketika seorang wanita akhirnya memberikan 2 pounds untuk mereka. Akhirnya mereka naik ke upper deck. Jantungku berdegup kencang, ini pertama kalinya aku melihat pertengkaran antar pemabuk (tercium dari bau napasnya).
30 menit kemudian, aku sampai di bus stop sebuah gereja. Turun di sini adalah jalan terdekat sampai ke rumah. Walaupun dekat, tapi ternyata aku sedikit menyesali memilih jalan ini. Aku harus menyeberang lapangan rumput yang di salah satu sisinya adalah kuburan. Bukan kuburan yang aku takuti, tapi tiba-tiba dari lapangan terlihat ada dua, empat, bahkan delapan mata yang bersinar. Aku yang sedikit taku akan binatang-binatang aneh, hanya bisa mempercepat jalan. Aku merasa mata-mata itu mengikutiku. Sesampainya aku di jalanan terang, aku bisa melihat sosoknya, mereka adalah rubah yang tampaknya baru memakan seekor tupai. Kemudian aku bergegas ke rumah.
Rumah sudah dikunci (sudah pasti) karena jam menunjukkan pukul 02.30. Aku memakai kunciku dan membuka secara perlahan, takut ada yang terbangun dan pasti aku dimarahi karena tidak bilang terlebih dahulu. Aku segera menaiki tangga dan memasuki kamarku. Di kamar, Jose sudah tertidur pulas. Aku yang masih merasa tak enak karena air yang dilempar para pemuda brengsek tadi memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Mandi dengan air hangat memang nikmat, pegal-pegal serasa hilang dibuatnya. Sampai di kamar, aku baru tersadar bahwa matahari sudah terbit, ya sudah pukul 3.30. Karena aku akan ada kelas pagi, aku langsung tidur.
Mulai saat itu aku tak pernah pulang lebih dari jam 10.00 di London
