h1

OST 2006, sebuah titik balik (TM+H1)

November 15, 2008

Hari itu adalah hari pertama aku secara resmi menjadi murid SMAN 3 Bandung, semua tampak berbeda dengan SMP. Mulai saat itu aku akan menjalanai kehidupanku di kota baru setelah sebelumnya aku tinggal di Bekasi.

Aku datang pukul enam pagi, lebih cepat tiga puluh menit dari bel masuk. Aku datang bersama kakakku melewati pintu SMAN 5 (saat itu aku masih indekos di jl. Bali). Walaupun sudah masuk sekolah, tapi aku masih harus memakai seragam smp sehingga aku dikira salah satu peserta mos sman5 yang memang masih berlangsung. Aku lantas menuju papan pengumuman di depan ruang guru. Di sana tercantum daftar nama dan kelas dari kelas X sampai XII. Lama mencari, akhirnya kutemukan namaku berada di kelas X-9. Karena tidak tahu lokasinya, aku segera melihat peta. Ternyata kelas X-9 terletak terpisah dari kelas lainnya, yaitu di lantai dua gedung koridor bersama 3-5. Aku sempat mengeluhkan lokasi ini. Kelasnya kurang terawat, jauh dari teman senagkatan, dan pasti guru akan banyak yang malas datang. Akhirnya aku mengambil tempat duduk di dekat jendela. Beberapa orang di kelas itu ada beberapa yang kukenal karena sekelompok saat PLiST. Akhirnya guru datang dan pelajaran dimulai dengan khidmat (maklum hari pertama, masih rajin). Selesai sekolah, aku pasti langsung pulang menggunakan angkot jurusan antapani-ciroyom.

Saat itu, aku adalah orang yang masih tak peduli akan masalah bangsa, orang yang hanya ingin keuntungan untuk diri sendiri, individualis (karena memang belum punya banyak teman T_T), dan sama sekali tidak bisa berbicara di depan banyak orang. Suatu hari, saat pelajaran sedang berlangsung tiba-tiba datang lima orang dengan memakai seragam yangsangat rapi. Mereka memperkenalkan diri bahawa mereka adalah MPK dengan suara yang lantang. Ternyata MPK sedang mengadakan seleksi yang disebut Organization Skill Training. Pada awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan hal ini, karena aku sudah capek setelah PLiST kemarin. Tapi, tiba-tiba aku merasa terpanggil untuk mengikuti kegiatan ini dengan tujuan mencari teman, ya, pada awalnya memang hanya mencari teman. Pada waktu istirahat, aku dan beberapa temanku mengambil formulir di stand dekat bazaar.

Malam harinya, aku meminta tandatangan kakekku untuk surat izin mengikuti kegiatan. Esoknya aku mengumpulkan formulir dan ternyata aku adalah pengumpul ikhwan pertama, oleh karena itu aku melakukan wawancara pertama beberapa hari kemudian. Wawancara berlangsung santai, tapi jujur saja aku sedikit tegang. Pewawancaraku bernama Adi. Pada awal wawancara, aku diberikan pertanyaan

  •  
    • Q : ini berapa jari?? (sambil menujukkan kedua tangan)
    • A : sepuluh (masih belum mengerti)
    • Q : kalau lsepuluh tangan berapa jari?
    • A : (dengan pedenya) 100! (10X10)
    • Q : …
    • A : ee…Lima puluh (baru sadar)
    • Q : saya minta kamu fokus ya

Setelah itu aku diberikan beberapa pertanyaan mengenai prioritas, visi misi, studi kasus, dll. Keluar dari ruangan wawancara aku diberi tahu panitia bahwa pada harijumat akan diadakan technical meeting, kumpul di koridor pukul 13.30. Aku kemudian bergegas pulang.

Hari jumat, aku berkumpul bersama peserta lain tepat pukul 13.30. Kami diberi perintah untuk berbaris dan diawasioleh beberapa panitia yang memasang wajah serius. Kemudian kami dipindahkan ke 2 ipa 9, kelas tertinggi di sini. Di 2ipa9, kami dikenalkan dengan panitia, mulai dari acara, lapangan, DPH, dan seksi yang paling ditakuti sekaligus paling diminati, tata tertib. Ketika PSAS-ku diperiksa, ternyata masih ada yang salah seperti lokasi tidak 3 jari, kaos kaki, dll. Setelah seksi tata tertib, datanglah dua orang dengan wibawa yang tinggi. Kedua orang itu kemudian duduk di depan dan kami duduk melingkar. Mereka adalah petinggi MPK, Faris sebagai Ketua dan Amri sebagai KaDiv Planning Organizer. Mereka menceritakan pengalamannya di MPK, dan keduanya berkata bahwa MPK telah merubah hidupnya. Mendengar cerita ini, tujuanku mulai bergeser, dari yang hanya mencari teman ke menjadi pengurus MPK.

Setelah sharing, mereka pergi dan sie. acara datang untuk memberikan tugas. Semangatku berkurang setelah mendapat tugas, apalagi tugasnya lebih rumit daripada tugas PLiST. Bahkan ada seorang temanku yang sudah menyatakan akan mengundurkan diri setelah pemberitahuan tugas (tapi akhirnya dia jadi ketua OSIS). Setelah pemberitahuan tugas, datang lagi panitia yang berteriak-teriak. Ternyata mereka akan memilih Komandan Siswa. Setelah terpilih, kemudian kami diajari jargon-jargon pembangkit semangat

“SISWA!”

“OST! OST! OST!”

“OST!”

“KAMI SISWA PASTI BISA!”

Jam telah menunjukkan pukul 5.00, kami dipersilahkan pulang. Kami memutuskan akan mengerjakan tugas esok harinya.

Hari Sabtu dan Minggu aku isi dengan kesibukan mengerjakan tugas, aku bekerja seperti seorang freerole player, kadang menggunting nametag, mengukur alas duduk, menempel buku, dan sedikit bermain gitar. Akhirnya tugas kami pun selesai dengan komando dari dua dansis, malik dan BJ.

Hari Senin, aku sekolah seperti biasa, hanya saja aku membawa barang ekstra untuk OST nanti siang. Pulang sekolah aku langsung bersiap dengan name tag, buku eval, dll sudah terpasang di seragamku. Kami dibariskan di koridor dan langsung digiring layaknya domba menuju aula. Di sana sudah berdiri para panitia dan pembina OSIS.  Kami melakukan apel pembukaan dengan khidmat. Setelah apel, kami digiring lagi ke 2ipa9, di sana kami di CP oleh tata tertib. Banyak sekali kesalahan yang kami lakukan, name tag salah ukuran, buku materi sudah diisi, PSAS, dll. Dari semua yang datang, hanya satu orang saja yang tidak melakukan kesalahan dan itu karena dia tidak datang saat pembuatan tugas. Kami pun dihukum dua set (dua puluh hitungan). Setelah itu kami dimarahi.

Setelah tatib, kami digiring ke X-9, kelasku. Di sana kami diberi materi tentang perspektif dalam menyikapi masalah oleh Amri. Aku mengikuti materi dengan serius. Setelah materi berikutnya, sang danlap (cewe lo) masuk dan mengajak kami mengobrol. Saat itulah muncul suatu kejadian yang akhirnya kami namai hari pertama dengan nama “hari subang”

Temanku, Hafy, baru kembali dari toilet. Saat itu sang danlap mengatakan bahwa satu lembar di buku materi tidak boleh di isi. Ternyata Hafy sudah mengisinya dan refleks mengatakan,”ANJIRR!!”. Setelah diselidiki selanjutnya, ternyata dia tidak tahu ANJIR adalah bahasa kotor karena di Subang hampir semua orang mengucapnya.

Di akhir rangkaian kegiatan, kami melakukan eval dan apel. Eval dilakukan seperti CP, kami ditanya apa yang sudah didapat dan semua kesalahan kami hari itu, dengan flow tinggi tentunya. Kemudian ketua panitia mengatakan bahwa untuk menjaga kualitas kami, maka akan diadakan penyusutan atau reduksi peserta yang akan dilakukan setiap hari. Aku langsung tegang dan berpikir bahwa aku tak boleh sampai tereduksi. Setelah apel, kami dipulangkan. Hari itu serasa hari terlama yang pernah aku lalui, tapi ternyata akan ada hari-hari yang jauh lebih panjang lagi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.